Kabupaten Banyumas

BBPP Batu Bersinergi Utamakan Pencegahan OPT di Banyumas

 

Sebagai pendamping program Upsus Pajale di Kabupaten Banyumas sejak tahun 2016, Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu terus bersinergi utamakan pencegahan munculnya organisme pengganggu tanaman (OPT). BBPP Batu terus melakukan koordinasi lintas sektoral bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas dan dengan Kodim 0701 Banyumas yang didukung oleh PPL, Mantri Tani, Babinsa dan POPT

Kepala Balai BBPP Batu, Wasis Sarjono, S.Pt. M.Si selaku Pj Upsus Pajale Banyumas), menyatakan bahwa sampai bulan Januari 2019 ini telah menanam lebih dari 26.366 Ha, dari luas lahan baku 31.673 Ha. Hal tersebut untuk menopang kebutuhan pangan dan stok pangan lokal maupun nasional. Semakin tinggi pertanaman di lapangan selain menjadi bagian dari harapan stok pangan kedepan namun juga menjadi ancaman munculnya berbagai penyakit dan OPT.

"Untuk itu seluruh komponen Upsus Pajale bersama petani, gapoktan dan poktan perlu meningkatkan kewaspadaan yang ekstra, untuk mencegah munculnya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) semakin meningkat populasi dan sebarannya, karena mencegah akan lebih baik, efektif, dan efisien, dalam mempertahankan dan meningkatkan provitas hasil panen kedepan," kata Wasis

Untuk menindaklanjuti arahan tersebut, sebagai langkah awal LO Upsus Pajale Heru Nurwanto, S.Pt pada Bulan Januari ini, terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, Petugas OPT, dan Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman (LHPT) Jatilawang dan secara vertical dengan Direktorat Perlindungan Tanaman maupun Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari. Sebagai salah satu langkah awal untuk mengantisipasi muncul dan berkembangnya OPT maka perlu mengaktikan kembali Posko Kewaspadaan OPT.

"Posko kewaspadaan ini menjadi media untuk mempermudah membangun komunikasi dan koordinasi dengan seluruh komponen, dalam upaya mencegah dan mengatasi OPT kedepan. POSKO akan selalu aktif melakukan up date data kondisi serangan OPT dan upaya upaya gerakan pengendalian yang telah dilaksanakan," kata Heru

Sementara itu Kepala Bidang Pelayanan Teknis, Informasi dan Dokumentasi BBPOPT Jatisari Ir Lilik Retnowati, telah memberikan arahan pada rapat Posko yang dilaksanakan belum lama ini. Kewaspadaan OPT harus di dukung sepenuhnya oleh semua unsur dan pihak, sebagai unjung tombaknya adalah Petugas POT bersama Anggota Poktan dan Gapoktan.

"Pengamatan harus dilaksanakan, dengan teliti, secara terus menerus dan konsisten, dari pematang selanjutnya masuk ke tengah sawah, karena OPT (tikus misalnya) biasa lebih senang menyerang dari tengah lahan sawah. Jika mendapatkan hasil pengamatan positif terdapat serangan OPT maka wajib melaporkan secara berjenjang ke Poktan, Gapoktan, selenjutnya ke Petugas OPT," tambahnya

Sedangkan menurut Kepala LHPT Jatilawang Khamdani, S.IP., SP. menyatakan untuk menegakkan diagnose hasil pengamatan maka perlu di bawa ke laboratorium LHPT Jatilawang, sehingga treatmen dan penanganan OPT maupun penyakit tanaman lebih tepat, efektif dan efisien. Dilapangan upaya upaya yang bisa dilaksanakan bisa melalui tindakan fisik, mekanis, kimia, maupun dengan agen biologis.

"Kondisi serangan OPT pada saat ini masih relative aman karena dilapangan juga terdapat organisme predator yang memangsa OPT, seperti laba-laba, burung hantu, dan ular, Namun demikian tetap harus waspada, bersinergi dengan POT serta seluruh petani di lapangan," jelasnya


Rabu, 16 Januari 2019