Kabupaten Banyumas

Banyumas Menuju Zero Thalasemia 2023

 

PURWOKERTO - Bulan Thalasemia Banyumas yang telah dicanangkan pada awal bulan November yang lalu dijadwalkan akan terus berlanjut sampai dengan akhir bulan ini. "Memutus Mata Rantai Kelahiran Thalasemia Mayor Menuju Banyumas Zero Thalasemia 2023" dipilih sebagai tema bulan thalassemia yang diadakan oleh Kabupaten Banyumas yang merupakan yang pertama kali baik tingkat nasional maupun internasional. Dalam Bulan Thalasemia 2019 ini, telah banyak dilakukan kegiatan yang intinya memberi edukasi kepada masyarakat Kabupaten Banyumas tentang apa itu Thalasemia.

Salah satu kegiatan yang dijadwalkan oleh penyelenggara, hari ini Minggu (17/11/2019) di Alun-alun Purwokerto dihelat Jalan Sehat Peduli Thalasemia. Sebagai penyelenggara kegiatan jalan sehat kali ini, Puguh Prasetyo, Presiden Rotary Club Purwokerto menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya jalan sehat ini untuk memberikan edukasi dan juga sosialisasi tentang thalassemia kepada masyarakata

Dalam sambutannya, Bupati Banyumas, Achmad Husein, menyampaiak bahwa semua orang wajib tahu tentang thalassemia agar bisa dilakukan pencegahan khususnya di dalam keluarga.
“Jangan takut bergaul dengan penderita karena tidak menular” katanya.
Menurut penjelasan ilmu kesehatan, thalassemia memang bukan merupakan penyakit menular dan bukan merupakan penyakit turunan serta dapat disegah sejak dini. Sampai dengan saat ini penderita thalassemia di Banyumas makin banyak, tidak kurang dari 400 orang menderita thalassemia dan merupakan jumlah penderita terbesar di Jawa Tengah.

“Nantinya pemerintah daerah akan bekerja sama dengan KUA untuk mewajibkan pasangan yang akan menikah untuk memeriksa darahnya dulu sebelum menikah” pungkas bupati.

Pada kegiatan jalan sehat ini juga, Ruswandi, Pengurus Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) mengedukasikan peserta bahwa thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diderita sejak anak-anak namun bukan penyakit menular dan bukan turunan serta bisa dicegah
“Thalasemia ada tiga golongan, yang pertama adalah pembawa sifat, kedua adalah intermedia dan yang katiga adalah mayor. Hindari pernikahan antara pembawa sifat karena akan melahirkan penderita thalasemia mayor” pesan Ruswandi.

Dinar Faiza, 30 tahun, penderita thalasemia mayor asal Banyumas, dalam testimoninya menyampaikan agar jangan ada perkawinan sesame penderita thalassemia minor karena akan melahirkan anak dengan golongan thalassemia mayor seperti dirinya. Dinar didiagonasa terkena thalassemia sejak umur 6 bulan. Selama 30 tahun dia melakukan transfusi darah satu bulan sekali dan juga mengkonsumsi obat 3 kali sehari.
“Jalan satu-satunya adalah memeriksa darah untuk yang akan berkeluarga. Jangan ada lagi Dinar yang lain. Karena sampai saat ini belum ada obatnya dan juga penderita serta keluarga akan menjadi miskin walaupun sudah ada bantuan dari BPJS” pesannya.

Sebelum pemberangkatan peserta jalan sehat oleh Bupati bersama ketua Tim Penggerak PKK Erna Husein, Forkopimda dan Masyarakat mendeklarasikan "Memutus Mata Rantai Kelahiran Thalasemia Mayor Menuju Banyumas Zero Thalasemia 2023 dengan Cegahan Thalassemia Sejak Dini.


Senin, 18 November 2019