Konsep Khit-pen Sebagai Salah Satu Pendekatan Dalam Pendidikan Orang Dewasa

Kabupaten Banyumas

Konsep Khit-pen Sebagai Salah Satu Pendekatan Dalam Pendidikan Orang Dewasa

 

Drs. Joeliono

Widyaiswara pada Kantor Diklat Kabupaten Banyumas

 

 Abstrak

 

Dalam mencapai keberhasilan pada pendidikan orang dewasa dibutuhkan banyak pendekatan-pendekatan, antara lain konsep Khit-pen sebagai suatu pendekatan untuk mengatasi kemungkinan sikap peserta yang kurang mendukung keberhasilan suatu diklat sebagai akibat munculnya sikap rendah diri, motivasi yang rendah, kelambatan berfikir maupun sikap skeptis peserta. Untuk itu dibutuhkan suatu diklat untuk meningkatkan kompetensi spesifik dari fasilitator guna menerapkan beberapa strategi pembelajaran dengan Konsep Khit-pen.

 

Kata Kunci  :  Konsep Khit-pen, kurikulum, diskusi, kompetensi

 

Keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi orang dewasa sangat ditentukan cara pendekatan yang digunakan atau diterapkan oleh fasilitator dalam mengelola kelas dan peserta diklat., disamping oleh latar belakang dan kondisi psikologis peserta. Pengalaman selama ini mengisyaratkan bahwa peserta diklat pada umumnya memiliki latar belakang pengalaman dan pendidikan yang berbeda-beda sehingga sangat mempengaruhi sikap dan perilaku mereka selama mengikuti diklat, antara lain sikap rendah diri, motivasi rendah, mudah patah semangat, merasa tidak berdaya atau lambat berfikir, bersikap skeptis terhadap manfaat mengikuti diklat. Sehingga sikap peserta semacam ini akan mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan diklat, dan bahkan target diklat akan tidak tercapai terutama berkaitan dengan perubahan kompetensi yang diharapkan.

 

Konsep Khit-pen merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bagi orang dewasa untuk mengantisipasi dan mengatasi terjadinya sikap peserta yang kurang mendukung terhadap keberhasilan suatu diklat. Konsep tersebut berasal dan telah dipraktekkan di Thailand, terutama pada lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah. Secara harfiah Khit-pen berarti mampu berfikir.

 

Menurut Kowit sebagaimana dikutip Zainudin Arif (2012), bahwa ”Seseorang yang mengalami proses Khit-pen akan mampu untuk mendekati masalah sehari-hari secara sistematis. Ia akan mampu menelaah penyebab masalahnya. Ia akan mampu mengumpulkan sejumlah informasi untuk pengambilan tindakan yang harus diambil dalam rangka pemecahan masalah”.  Konsep dimaksud manakala dikaitkan dengan proses pembelajaran mencakup berfikir secara kritis dan kecakapan memecahkan masalah. Selanjutnya menurut Zainudin Arif dijelaskan bahwa konsep Khit-pen sangat diilhami oleh filsafat Budha. Dalam filsafat Budha dikatakan bahwa pertama hidup adalah penderitaan, kedua penderitaan itu dapat diatasi, dan ketiga untuk mengatasi penderitaan, maka sumber penderitaan harus diidentikasi dan baru kemudian mencari cara pemecahan yang baik. Dan pada dasarnya salah satu maksud diselenggarakannya diklat adalah untuk meningkatkan kompetensi peserta dalam rangka menghadapi permasalahan di tempat kerja, disamping sudah barang tentu untuk meningkatkan kompetensi baik perubahan pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap perilaku maupun memperluas wawasan.

          

Permasalahan pertama yang muncul bagaimana hubungan antara konsep Khit-pen dalam pengembangan kurikulum dalam proses pembelajaran di lembaga kediklatan. Selanjutnya Zainudin Arif (2012) mengungkapkan bahwa pengembangan kurikulum dengan konsep Khit-pen meliputi 4 strategi, yakni :

 

Strategi pertama, sebelum merancang kurikulum, harus diawali dengan penentuan kebutuhan belajar para peserta diklat dengan menggunakan baseline survei untuk kemudian dituangkan dalam bentuk beberapa konsep dasar.

 

Strategi kedua,merencanakan satuan-satuan pelajaran dan penentuan proses diskusi-diskusi yang mendukung pelaksanaan pembelajaran, sehingga dalam setiap pertemuan (session) peserta diklat memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk berlatih, menuangkan ide dan kreativitasnya dalam memecahkan masalah secara kritis dengan mengkaitkan pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Dalam kesempatan ini terjadi sharing pengalaman, dimana peserta dapat mengungkapkan pengalaman-pengalamannya dalam pelaksanaan tugas di sistem permanenannya masing-masing. Sedini mungkin harus dihindari terjadinya pemaksaan-pemaksaan kurikulum, tetapi permasalahan dan cara pemecahannya harus benar-benar dicari oleh peserta diklat sendiri, agar tidak mematikan kemampuan dan kreativitasnya dalam menggali permasalahan yang dihadapi sekaligus cara pemecahannya. Dalam diskusi tersebut peserta juga mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan dirinya, dengan persyaratan setiap peserta harus benar-benar menguasai permasalahan yang dihadapi dan cara pemecahannya. Dalam strategi ini peranan fasilitator sangat menentukan untuk memberikan motivasi agar peserta memiliki cukup keberanian dan terbebas dari rasa malu untuk mengungkapkan permasalahan atas dasar pengalamannya beserta cara pemecahannya. Selain dari pada itu fasilitator juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan mendukung proses pelaksanaan diskusi-diskusi, disamping memandu peserta agar materi diskusi merupakan permasalahan-permasalahan yang aktual.

 

Strategi ketiga, dalam kegiatan diskusi seyogyanya digunakan gambar dan alat peraga yang berfungsi sebagai perangsang diskusi (discussion starter) bagi peserta diklat dalam mempraktekkan teknik atau ketrampilan dalam pemecahan masalah (problem solving).

 

Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam publikasinya yang terkenal berjudul Quantum Learning (2004) menyatakan bahwa belajar dapat terjadi dengan cara :  

        

-       10% dari apa yang kita baca

-       20% dari apa yang kita dengar

-       30% dari apa yang kita lihat

-       50% dari apa yang kita lihat dan dengar

-       70% dari apa yang kita katakan

-       90% dari apa yang kita katakan dan lakukan

 

Juga Sophocles (Yunani) dalam Warsono dan Hariyanto (2012) mengatakan pada 5 (lima) abad Sebelum Masehi yang lalu bahwa : ”Seseorang harus belajar dengan cara melakukan sesuatu, karena walaupun Anda berfikir telah mengetahui sesuatu, Anda tidak akan memiliki kepastian tentang hal tersebut sampai Anda mencoba melakukan sendiri.  Identik dengan pendapat Sophocles ini pepatah kuno dari Cina (ada sumber yang menyebutnya sebagai ucapan.

 

Konfusius) yang mengatakan :

-       Apa yang saya dengar, saya lupakan

-       Apa yang saya lihat, saya ingat

-       Apa yang saya lakukan saya pahami

 

Strategi keempat, yakni kurikulum agar disusun secara luwes untuk mengakomodasi terhadap keanekaragaman kebutuhan peserta diklat., sehingga pengadaan dan penyediaan buku standar bukanlah merupakan keharusan, tetapi disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta terutama dalam memecahkan masalah-masalah aktual yang telah diidentifikasi sendiri oleh peserta. Selain dari pada itu dalam menerapkan Konsep Khit-pen, seorang fasilitator harus mempu menciptakan suasana belajar yang lugas atau tidak kaku (rigid), termasuk didalamnya pengaturan tata ruang  kelas dan pengaturan waktu pada setiap pertemuan (session) ditentukan dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan dari peserta diklat, sehingga akan terbangun suasana belajar yang menyenangkan.

 

Dalam kontek dimaksud peranan fasilitator sangat dominan, terutama sikap dan tingkah laku fasilitator akan sangat mewarnai perilaku dari para peserta, antara lain bagaimana cara berpakaian, cara menjawab pertanyaan dari peserta akan membentuk norma dalam setiap pembelajaran. Perlu dihindari sedini mungkin agar jangan sampai terbangun suatu kecenderungan peserta untuk menggantungkan dirinya kepada fasilitator, karena akan menurunkan derajad partisipasi peserta baik dalam usahanya untuk mengindentifikasi permasalahan dan memecahkan masalah yang dihadapai dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Bobbi DePorter dan Mike Hernacky (2004) selanjutnya berpendapat antara kain bahwa Kurikulum merupakan kombinasi dari ketrampilan akademis, ketrampilan hidup dan tatntangan-tantangan fisik harus dikembangkan dari suatu falsafah bahwa belajar harus dan dapat menyenangkan. Selanjutnya dikatakan pula bahwa segala sesuatu yang ingin dikerjakan harus menjanjikan manfaat bagi peserta dan peserta akan termotivasi untuk melakukannya. Menciptakan minat adalah cara yang sangat baik untuk memberikan motivasi kepada para peserta untuk mencapai tujuannya.

 

Permasalahan kedua adalah bagaimana meningkatkan kompetensi para fasilitator agar mampu menerapkan konsep Khit-pen dimaksud?. Bertitik tolak dari pemahaman bahwa konsep Khit-pen dimaksudkan sebagai suatu pendekatan untuk mengantisipasi dan mengatasi kesulitan belajar para peserta diklat, sehingga diharapkan peserta mampu mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, dengan berfikir secara kritis dan sistematis, maka sudah barang tentu peranan fasilitator sangat dominan dalam mengarahkan dan terutama memotivasi peserta agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan diskusi-diskusi yang merupakan salah satu metode pembelajaran dalam konsep Khit-pen, termasuk menciptakan suasana dan iklim belajar yang mendukung peserta  termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

 

Untuk mengoperasionalkan konsep tersebut seorang fasilitator dituntut untuk memiliki kompetensi yang spesifik. Harus dihindari adanya suatu kecenderungan dari seorang fasilitator yang memiliki gaya mengajar konvensional, dalam arti masih terlalu banyak menyandarkan pada format kuliah dengan asumsi bahwa pengajar yang paling tahu dan peserta didik tidak tahu. Sebagaimana dikatakan oleh Zainudin Arif (2012), bahwa latihan ini terutama  dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan mereka bukan sebagai pemberi pelajaran tetapi sebagai fasilitator. Penekanan dalam latihan bagi mereka dititikberatkan pada keterlibatan mereka dalam proses belajar, terutama cara bagaimana menentukan kurikulum diklat sesuai dengan kebutuhan diklat yang nantinya harus disusun bersama dengan melibatkan peserta diklat.

 

Maka kegiatan pembelajaran dalam format kuliah hanya diberikan secara terbatas, tetapi lebih banyak dikuasai oleh cara-cara mengajar yang lebih banyak melibatkan peserta, misalnya dengan diskusi-diskusi kelompok, latihan-latihan kepekaan dengan menggunakan teknik curah pendapat, belajar sambil bekerja, permainan simulasi, permainan peran, maupun studi kasus. Untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dalam penerapan konsep Khit-pen dapat menggunakan alat-alat peraga, film, gambar-gambar atau cerita-cerita yang bersifat terbuka tertutup (open ended story), dimaksudkan antara lain untuk menghidupkan dan merangsang suasana diskusi dan memberikan kemudahan kepada peserta untuk menerima dan mencerna hasil pembelajaran. Jauh lebih penting lagi selain kompetensi adalah komitmen baik dari fasilitator maupun peserta untuk terselenggaranya kegiatan pembelajaran dengan menerapkan konsep dimaksud.


DAFTAR PUSTAKA

 

Arif, Zainudin (2012),  Andragogi,  CV. Angkasa, Bandung

 

DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike (2004), Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan, PT Mizan Pustaka, Bandung

 

Warsono dan Hariyanto (2012), Pembelajaran Aktif, Teori dan Asesmen,  PT. Remaja Rosdakarta, Bandung


06 09 2013 10:29:3