Faiz Hidayat, Petani Anggur Dari Banyumas Yang Rela Belajar Sampai ke Ukraina

Kabupaten Banyumas

Faiz Hidayat, Petani Anggur Dari Banyumas Yang Rela Belajar Sampai ke Ukraina

 

Faiz Hidayat, Warga Desa Purwodadi, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas berhasil mengembangkan kebun anggur diatas lahan seluas sekitar 3000 meter pesergi. Ada ratusan varietas tanaman anggur import yang ia datangkan dari berbagai negara seperti Amerika, Ukraina, Rusia, Jepang, Italia, Thailand, dan Turki. Kebun anggur percobaan miliknya ini diberi nama Jayasri Nursery.

Awalnya Faiz  yang penggemar buah anggur ini, mulai menekuni bidang pertanian tanaman anggur sejak tahun 2013 dengan mulai mencoba menanam berbagai bibit varietas anggur dari berbagai negara.

“Pemikiran saya bagaimana tanaman anggur ini bisa tumbuh di Indonesia khususnya di Banyumas, maka saya mencoba menanam sekaligus observasi jenis anggur apa saja  yang cocok disini,” kata Faiz, Kamis (24/9/2020).

Untuk belajar tentang anggur ia bahkan belajar sampai ke Ukraina. Awalnya berkenalan dengan salah satu petani anggur di Ukraina melalui internet, hingga kemudian pada pertengahan tahun 2015 ia diundang oleh petani tersebut untuk belajar disana.

“Saya tak menyangka bisa diundang ke Ukraina untuk belajar tentang anggur. Ini kesempatan yang langka, kemudian saya putuskan kesana dengan biaya pribadi,” ujar pria yang akrab disapa Fafa ini.

Selama kurang lebih 15 hari Faiz belajar tentang tanaman  anggur mulai dari pemilihan bibit sampai cara memanen buah tersebut. Kini sudah ada lebih dari 400 pohon anggur dengan berbagai varietas berhasil ia tanam di kebun miliknya. Dari ratusan jenis anggur, setidaknya ada 7 jenis anggur yang sudah beberapa kali panen dengan hasil yang lumayan bagus, yakni  Jupiter Seedless, Akademik Avidzba, Fourchette, Laura, Ninel, Everest dan Anggur jenis Fuji Minori dari Jepang.

“Sementara ini anggur yang berhasil melewati uji coba ada 7 jenis, salah satunya yang paling banyak ditanam itu varietas anggur Jupiter dari Amerika,” ungkap Faiz yang juga sebagai perangkat desa setempat.

Faiz menuturkan untuk mencapai masa panen hampir semua jenis anggur dikebunnya memakan waktu 90 hari. Tergantung dari proses pembuahannya, ada beberapa jenis anggur yang penyerbukannya harus dibantu untuk menghasilkan kualitas buah yang maksimal.

“Anggur laura dari Ukraina untuk proses pembuahannya melalui tahap polinasi buatan, sebetulnya bisa saja secara alami tapi tentu akan mempengaruhi kualitas buahnya,” tuturnya.

Usaha yang digelutinya ini perlu memakan waktu 5 tahun penelitian, observasi uji coba tanaman anggur ini sudah memperlihatkan hasilnya. Pada tahun 2018 kebun anggur Jayasri Nursery yang menyewa lahan desa ini mulai dibuka untuk umum. Konsep pemasaran yang diusungnya ini cukup unik, pembeli bisa datang ke lokasi untuk menikmati sensasi memetik buah anggur langsung dari pohonnya. Bukan hanya buah anggurnya saja tetapi Jayasri Nursery ini juga menyediakan 15 varietas bibit anggur siap jual.

“Disini tidak hanya menjual buah anggurnya saja, tetapi bagi yang ingin belajar merawat tanaman anggur kami juga menjual 15 varietas bibit anggur yang sudah teruji dari segi proses pembuahannya, kualitas buah hingga segi perawatannya yang cenderung lebih mudah. Jadi kami ingin mengedepankan wisata berbasis edukasi,” ujarnya.

Bagi pengunjung yang akan merasakan sensasi petik anggur segar dari pohonnya, Faiz mematok harga Rp100 ribu per kilonya. Sedangkan untuk bibitnya sendiri dijual Rp125 ribu.

Faiz berencana ingin mengembangkan kebun anggur miliknya menjadi agrowisata. Konsepnya pengunjung bisa menikmati suasana kebun anggur hanya dengan membeli jus anggur sebagai ganti tiket masuk, selain itu juga akan membuka pelatihan perawatan tanaman anggur sebagai wisata edukasinya.

“Kalau sarana dan prasarananya sudah memadai kami ingin membuka wisata agrowisata dengan konsep tiket masuknya hanya dengan membeli jus anggur pengunjung bebas menikmati suasana disini sambil berfoto,” jelasnya.

 


Kamis, 24 September 2020