"Trauma Healing" anak usia dini di tengah banjir

Kabupaten Banyumas

Banjir yang menggenang sejak hari Senin 26 Oktober 2020 hingga saat ini di wilayah selatan Kab. Banyumas. Rupanya tidak hanya menyisakan trauma pada orang dewasa, namun juga pada anak usia dini.

Anak-anak trauma di wilayah bencana membutuhkan penanganan khusus.
Upaya tersebut hingga saat ini terus diupayakan, tidak hanya oleh pemerintah daerah juga stakeholder pegiat sosial yg ada di Kab. Banyumas.

Sebagaiaman dikatakan oleh Dr Tri wuryaningsih, salah satu pegiat Komite Perlindungan Anak Indonesia pada saat melaksanakan kegiatan sosial bersama Srikandi Pemuda Pancasila (PP) Kab. Banyumas, mengatakan bahwa anak di daerah bencana perlu ditangani agar mereka bisa sehat secara lahir bathin.
Secara lahir perlu mendapat asupan makanan yang baik dan secara bathin dilakukan upaya "Trauma healing", sehingga anak tetap sehat, bahagia dan belajar dengan tenang.

Kepala BPBD Kab. Banyumas Titik Pujiastuti, memetakan bahwa terdapat anak- anak usia dini di wilayah terdampak bencana banjir di Kecamatan Kemranjen, meliputi desa :
Sirau 15 anak, Sidamulya 30 anak, dan Grujugan ada 34 anak.

Selanjutnya secara teknis, sebagaimana disampaikan oleh Rudi Setiawan petugas BPBD di grumbul Kejabung desa Sidamulya, bahwa telah diberikan perlakuan khusus kepada anak- anak terdampak bencana banjir, seperti pengolahan, pemberian makanan yang dibedakan dengan orang dewasa, juga tempat khusus untuk anak di ruang "Trauma healing", berikut dengan rangkaian program dan kegiatan yang telah tersusun oleh komunitas Pysiko Sosial dari Fakultas pysikologi UMP Purwokerto.

Seorang mahasiswa yang bertugas untk menangani masalah psikologis anak terdampak bencana Dinastia Putri dari team pshiko sosial UMP, mengatakan bahwa telah dilakukan upaya berupa pendekatan psikologis kepada anak anak asal wialayah RT 1 s/d RT 6 dengan mengajak berkegaiatan seperti : senam, bermain, belajar bersama, makan bersama, dan istirahat cukup.

Semua upaya tersebut ternyata disambut baik, oleh Ibu Kesiana asal grumbul Kejabung Sidamulya yang tinggal pada tempat penampungan dengan tiga anak usia dini, mengatakan bahwa program tersebut sangat membantu, khususnya dalam menangani banyaknya anak sakit ketika awal banjir terjadi seperti demam dan sakit perut, kemudian menjadi sehat dan gembira, tanpa ada trauma pada mereka.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang peserta program "Taruma Healing" atas nama anak Eva asal Kejabung Sidamulya yang telah tinggal di penampungan pengungsi itu selama 3 hari.
Dia mengatakan bahwa senang dengan program tersebut karena program kesehatan, belajar, senam dan bermain bersama, dengan asupan makanan enak dan program kesehatan yang telah di berikan oleh petugas yang ada.

Kaitan "Trauma Healing" Istri Bupati Banyumas Hj. Erna Husein menyatakan bahwa, anak-anak terdampak bencana perlu terus disokong dengan program kesehatan yg memadai, utamanya kaitan dengan Pandemi Covid 19 yang belum berakhir, juga dampak bencana yang biasanya paling mengancam keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan anak-anak.
Untuk itu perlu upaya terpadu yang melibatkan lintas departamen seperti kesehatan, pendidikan, BPBD, pemerintahan di wilayah dan masyarkat yang selalu bergotong royong di dalamnya.

Dalam kaitan kegiatan tersebut, Hj. Erna Husein selaku penasihat Srikandi Pemuda Pancasila (PP) dan Dr. Tri wuryaningsih beserta jajaran dan anggota PP, menyerahkan bantuan bahan makanan di dua posko pengungsian di Desa Sirau dan Sidamulya Kec. Kemranjen pada hari Minggu (01/11/2020) berupa masing masing : mie instan 14 dus, beras 1 kwintal, minyak goreng 42 liter, gula 8 kg, bolu kering 6 dus, telor 100 kg, tahu 1 dus dan tempe 6 papan 

Selanjutnta secara terpisah Hj. Erna Husein melanjutkan peninjauan bencana banjir bersama team Kabupaten yang terdiri dari : BPBD, Camat Tambak, Puskesmas Tambak ke Grumbul Nusa Pule desa Plangkapan, yang telah terendam banjir dengan elevasi muka air antara 1 s/d 2 m selama 5 hari belakangan ini.

Pada kesempatan tersebut diserahkan bantuan sembako dan pemeriksaan kesehatan kepada 26 KK terdampak di lokasi tersebut.

Dalam interaksi dengan masyarakat dan team Kabupaten, masyarakat melalui Kades Plangkapan Istianto, mengharapkan agar grumbul Nusa Pule dapat segera bebas dari isolasi banjir.
Lebih jauh seorang warga meminta pemerintah dapat membangun jalan masuk ke grumbul yang lebih lebar, lebih tinggi dari perkiraan muka air banjir tahunan.


Senin, 02 November 2020