9 Tahun BHHC: Membingkai Narasi Sejarah dalam Arsip dan Foto

Kabupaten Banyumas

BANJOEMAS-Deretan foto-foto wajah berwarna hitam putih terpajang pada sketsel besi. Di bagian lain, puluhan arsip, kartu pos maupun surat yang tertulis dalam bahasa Tiongkok dan Belanda juga terpampang.

Beragam arsip dan foto kuno itu menjadi pemandangan unik dalam pameran 9 Tahun Banjoemas History and Heritage Community (BHHC) di beranda Kedai Yammie dan Kopi 1001 Jalan Pungkuran, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, pada 11-12 November 2020. Kedai ini, merupakan salah satu bangunan diduga cagar budaya milik keluarga Tionghoa yang menjadi saksi sejarah kejayaan batik Banyumas.

Founder BHHC, Jatmiko Wicaksono mengatakan, pameran sederhana ini berupaya menghadirkan narasi sejarah dalam bentuk arsip dan foto. Seluruh materi pameran terkumpul selama kurang lebih 10 tahun.

"Dari foto yang dipajang, misalnya foto potret diri yang merupakan koleksi dari sebuah studio foto di Ajibarang, bisa dilihat model pakaian, maupun gaya rambut pada tahun 1940-1980an. Ada model artis zaman dulu seperti Demi Moore atau Rima Melati," katanya, di sela pameran.

Selain potret diri, BHHC juga memajang sejumlah foto lawas seperti RS Tentara (sekarang kantor UPTD DPU Kecamatan Banyumas) dan Stasiun Timur (sekarang dipugar). Dokumen yang terpajang antara lain surat keterangan melepaskan kewarganegaraan Tiongkok hingga beberapa surat dari perkumpulan Tionghoa serta iklan bioskop Rajawali.

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Yogyakarta ini mengatakan, sejarah sejarah merupakan perjalanan waktu, sementara warisan adalah tonggak atau bukti peninggalannya. Menurutnya, masih banyak bukti-bukti atau peninggalan sejarah di lingkungan masyarakat yang tidak tercatat atau terdokumentasikan yang perlu diungkap secara luas.

"Oleh karena itu, tujuan kita memberikan sosialisasi agar kita lebih peduli dengan warisan sejarah di sekitar kita. Kami menerima dukungan, komentar, kritik dan saran, serta partisipasi aktif masyarakat untuk melaporkan bangunan cagar budaya, artefak yang rusak atau dirobohkan. Informasi tersebut akan diteruskan kepada pihak berwewenang," ucapnya.

Adapun BHHC sendiri, lahir dari kepedulian terhadap bangunan, sejarah dan warisan budaya yang perlahan-lahan mulai menghilang di wilayah Banyumas Raya. Meski awalnya hanya sebagai kumpulan pehobi, komunitas yang berdiri pada 11 November 2011 ini mengembangkan sayap dalam bidang advokasi cagar budaya.

Salah satu pengunjung pameran, Reza (19) mengaku sangat kagum dengan arsip dan foto yang dipamerkan tersebut. "Ternyata dari hal-hal kecil seperti surat juga dapat menjadi sebuah narasi sejarah yang menarik," ujar mahasiswa UNS ini.


Jumat, 13 November 2020