Kabupaten Banyumas

Banyumas Rutin Ekspor Kayu Olahan Sampai Daun Ketapang

Banyumas - Mungkin banyak yang tidak menyangka daun ketapang ternyata diminati pasar ekspor. Daun yang berasal dari pohon ketapang atau Terminalia catappa biasanya jatuh dan menjadi sampah. Bahkan dibakar untuk membersihkannya. Namun, di Banyumas, sampah itu bisa diubah menjadi pundi-pundi rupiah.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat di Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah sampaikan, bahwa komoditas daun ketapang termasuk unik, tapi ini bisa menjadi potensi yang tersembunyi. Hal ini dibuktikan Raeza Praditya Heryantoro, petani muda ini dapat menangkap potensi tersembunyi ini. Daun dibersihkan dan disiapkan untuk dikirim ke mancanegara seperti Kanada dan Amerika. "Kalau orang lain mengikuti jejak pak Raeza, bukan berarti nanti keuntungan pak Raeza jadi berkurang, justru ini memacu untuk terus bertumbuh, rizki tidak akan tertukar," jelas Kepala Barantan saat lepas ekspor kayu olahan di Kabupaten Banyumas (23/3).

Daun ketapang yang diekspor tersebut ternyata digunakan dalam budidaya ikan cupang. Diantaranya untuk menstabil pH, membuat warna air menjadi sesuai habitat ikan cupang dan bisa mencegah jamur dan bakteri. Menurut Raeza, ia hanya memunguti daun ketapang yang jatuh, kemudian dibersihkan dan dipersiapkan untuk ekspor. Sedangkan harga jualnya dapat mencapai Rp. 1 juta rupiah per kg. "Kalau biaya karantina kita atau PNBP nya cuma 5.002 rupiah per kilonya," imbuh Jamil.

Dalam kesempatan tersebut Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah Kabupaten Banyumas bersinergi juga melepas ekspor 57.672 m3 kayu olahan berupa barecore senilai 7,9 M tujuan Tiongkok dan gula organik sejumlah 21 ton, senilai Rp. 677,76 juta dengan tujuan Rusia dan Brasil (total ekspor Rp. 8,58 M). Kementan lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) ikut mendukung akselerasi ekspor di daerah lewat jaminan kesehatan terhadap produk yang diekspor agar sesuai dengan persyaratan sanitary dan phytosanitary (SPS) negara tujuan. "Secara konsisten, kita mendorong pertumbuhan ekspor non migas di setiap daerah khususnya produk pertanian, nggak cuma menjamin kesehatan tapi kita juga berikan pelatihan bagi mereka yang ingin menjadi eksportir lewat program Agro Gemilang," jelas Kepala Barantan.

Menurut Jamil, data ekspor komoditas pertanian tahun 2018 yang tercatat di Barantan dan dilalulintaskan lewat Bandara Tunggul Wulung, Pelabuhan Tanjung Intan, dan Kantor Pos Besar Purwokerto mencatat berbagai komoditas unggulan dari empat kabupaten yang menjadi wilayah layanannya yaitu Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purworejo, dan Kebumen. Diantara komoditas tersebut antara lain produk kayu yang ekspornya mencapai 959.945,21 m3 atau senilai Rp. 2,98 T, daun ketapang sebanyak 55,37 kg seharga Rp. 55,37 juta rupiah dan gula merah sebesar 892,88 ton, yang bernilai Rp. 35,7 M. Menurut Jamil, potensi tersebut tentu masih sangat bisa dinaikkan, tentu harus dibarengi kerjasama yang apik antara pemerintan, dinas terkait dan para pengusaha di daerah. "Barantan mendorong lewat serrifikasi dan program Agro Gemilang," tuturnya.

Puji Hartono, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap merinci bahwa rata-rata tujuan ekspor komoditas tersebut adalah Tiongkok, Jepang, Malaysia, Vietnam, Australia, India, Mesir, Algeria, Belanda, Inggris, Amerika, Ekuador dan Kanada. Sedangkan pada awal tahun ini, ekspor yang dikirim dari tiga wilayah kerja Karantina Pertanian Cilacap tercatat sudah mengeskpor total 46.511,680 m³ kayu olahan senilai Rp. 144,4 M, gula merah sebanyak 70,25 ton bernilai Rp. 2,8 M, dan ekspor daun ketapang sebanyak 19,5 kg senilai Rp. 19,5 juta. "Karantina Cilacap siap memberikan pelayanan sertifikasi kesehatan, dan juga bimbingan pelatihan pada calon eksportir baru di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya lewat program Agro Gemilang 2019," ungkap Puji.

Achmad Husein, Bupati Banyumas yang turut melepas ekspor kayu olahan tersebut sangat bangga, bahwa banyak potensi non migas di bidang pertanian di daerahnya yang masih bisa dikembangkan. Ia berharap, selepas acara tersebut, para ekportir dan pengusaha lebih giat dan bersemangat lagi memasarkan produk pertanian dan perkebunan khususnya dari wilayah Banyumas dan umumnya dari Jawa Tengah ke manca negara. Husein ingin, ekspor dari Kabupaten Banyumas khususnya menjadi penanda bahwa daerahnya memiliki peran yang sangat strategis dalam menambah devisa negara sehingga secara tidak langsung akan menguatkan dan menggerakan pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan-Barat. Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa para eksportir tidak perlu khawatir, ia selaku bupati, siap mendukung dengan segala daya dan upaya demi memajukan Kabupaten Banyumas, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan.

Kepala Barantan RI Jamil, menyampaikan bahwa kegiatan ekspor ini merupakan inisiasi Kementan melalui Barantan dengan program Ayo Galakkan Ekspor Produk Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa (Agro Gemilang). Program yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah ekspor komoditas pertanian berbasis wilayah sekaligus menambah jumlah eksportir di sektor pertanian dari kalangan muda. "Kita ingin, ekspor komoditas di wilayah meningkat baik volume maupun tujuan negaranya," pungkas Jamil.


Senin, 25 Maret 2019